Tema Gambar Slide 1

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Jumat, 06 April 2018

GUPRES 2018

GUPRESSSSSSSS!!!!!!!!!!!!




PORTOFOLIO PRESTASI AKADEMIK


                               
NAMA      : SRI HANDAYANI, S.Pd., M.Pd.

NIP            : 196711022005012007

INSTANSI: SD NEGERI 02 JATEN – UPT PUD, NFI, DAN SD KECAMATAN JATEN

Selasa, 19 September 2017

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR
Sri Handayani, S.Pd., M.Pd. (hand.sri0211@gmail.com)   

In this life we cannot always do great things. But we can do small thing with great love.
Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar.
( Thomas Jefferson)
Pendidikan adalah unsur yang sangat penting dalam pembangunan bangsa Indonesia. Sumber Daya Manusia adalah unsur utama dalam mengubah bangsa Indonesia sejajar dengan negara-negara berkembang yang ada di Asia Tenggara bahkan di belahan dunia. Oleh sebab itu pendidikan merupakan “makanan yang sangat empuk” dalam ajang-ajang kampanye di pilihan bupati atau walikota, pilihan kepala daerah, bahkan dalam pemilihan presiden.

Pendidikan juga merupakan salah satu janji pasangan Bapak Joko Widodo dan Yusuf Kalla dalam “ Nawa Cita”, ini merupakan salah satu 9 Agenda Prioritas Jokowi-JK. Dalam Nawa Cita yang ke lima berbunyi, “Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” ...

Apakah sudah berhasil Jokowi-JK dalam mengemban amanah seluruh rakyat Indonesia?
Pendidikan saat ini menjadi sorotan kita semua, terutama media masa-media masa menyoroti tentang bagaimana pendidikan kita saat ini. Baru-baru ini kita telah dihebohkan tentang “Anak Sekolah Dasar kelas 4 sudah bisa membuat kebohongan palsu di media masa”, nah salah siapakah ini? Bahkan perkelahihan, narkoba, pelecehan seksual marak di kalangan anak muda bahkan di kalangan pendidikan sekolah dasar. Oleh sebab itu, bangsa Indonesia sangat prihatin dengan masalah yang sangat pelik ini. Kita baru saja memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, sudah 72 tahun kita merdeka, 72 tahun kita mengemban amanah para pahlawan kemerdekaan untuk melanjutkan cita-cita perjuangan mereka yang telah gugur di medan perang, sampai titik darah yang penghabisan. Apakah kita terlalu “evoria” atau bahagia sehingga kita lupa, apakah tujuan utama kita dalam mengisi kemerdekaan?

Apakah kita sudah “MERDEKA” dalam arti yang sebenarnya?
Apakah kita masih “DALAM PENJAJAHAN”?
Permasalahan di Indonesia sangat komplek, bahkan sudah mendekati permasalahan yang sangat pelik. Kebobrokan mental dan karaktek di kalangan remaja, khususnya peserta didik merupakan permasalahan yang sulit diuraikan, bagaikan benang kusut yang sulit diuraikan pangkal dan ujungnya. Tidak dapat ditemukan akar permasalahannya. Masing-masing institusi saling menyalahkan. Masyarakat menyalahkan pihak pendidikan, pihak pendidikan menyalahkan pemerintah yang mengambil kebijakan. Mereka saling menyalahkan, tapi mereka tidak sadar kalau semua pihak mempunyai kontribusi masing-masing. Mari kita memulai dari diri kita masing-masing!

Sekolah Dasar merupakan pondasi dasar pembentukan mental dan karakter generasi bangsa, wajar pendidikan 9 tahun dimulai dari pendidikan dasar. Tentunya setelah peserta didik mendapatkan bekal karakter dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ataupun dalam keluarga masing-masing. Mereka mulai mengenyam pendikan formal di Sekolah Dasar. Oleh sebab itu Sekolah Dasar merupakan pondasi yang sangat bagus untuk membentuk mental dan karakter peserta didik menuju generasi yang bermartabat. Penguatan pendidikan karakter merupakan salah satu usaha dalam mencetak generasi penerus yang cerdas dan bermartabat di masa depan.

Penguatan pendidikan karakter dapat kita laksanakan di sekolah kita masing-masing, dengan cara yang beraneka ragam. Guru harus aktif, kreatif, dan inovatif. Agar peserta didik mengidolakan kita, agar peserta didik mengidolakan kita. Sebagai seorang guru yang sangat dekat dengan peserta didik, wajib memberikan contoh yang sangat nyata, contoh riil di bisa dicontoh oleh peserta didik kita. Setiap hari selama 7 jam dalam sehari, selama 196 jam setiap bulannya, bahkan di setiap tahunnya kita menghabiskan waktu dengan peserta didik selama 2. 352 jam, dan selama 14.112 jam peserta didik menghabiskan waktu dengan kita. Tentunya dalam waktu yang sekian itu, kita dapat mempengaruhi karakter dan kebiasaan-kebiasaan pada peserta didik kita. Bayangkan, jika setiap pribadi-pribadi guru menyadari semua itu. Tentunya jiwa dan karakter peserta didik kita akan lebih baik. Pembiasaan-pembiasaan juga harus tercantum dalam kurikulum yang telah kita rencanakan sebagai pedoman pelaksanaan di satuan pendidikan. Selain kebiasaan yang dicontohkan dari seorang guru, tentunya harus diwajibkan di sekolahan yang sudah tercantum di Kurikulum Satuan Pendidikan.

Program Penguatan Pendidikan Karakter dilaksanakan sekolah untuk membentuk karakter siswa agar memiliki sikap nilai utama: relegius, nasionalisme, mandiri, gotong-royong, dan integritas. Untuk membentuk 5 nilai utama karakter dilaksanakan dengan 3 pendekatan, antara lain:
1. Melalui PPK Berbasis Kelas dengan mengintegrasikan nilai-nilai utama karakter ke dalam proses pembelajaran semua mata pelajaran/tema yang dilakukan oleh setiap guru di sekolah. Adapun Penguatan Pendidikan Karakter melalui tahapan-tahapan, antara lain:
a. Guru
Merancang pembentukan nilai utama karakter diintegrasikan dalam penyusunan perangkat pembelajaran, seperti: Program Tahunan, Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Penilaian. Dan yang sangat penting peran seorang guru sangat mempengaruhi PPK. Peran guru dalam PPK dilaksanakan di luar maupun di dalam jam pelajaran, bahkan di luar sekolahpun seorang guru menjadi figur atau sosok yang patut dicontoh.
b. Pelaksanaan
Dilaksanakan terintegritas dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sesuai perencanaan pembelajaran yang dirancang guru. Selain itu juga dilaksanakan sebelum dan sesudah pelajaran dimulai. Pelaksanaan di luar jam belajar juga sangat efektif  dalam penerapan penguapan pendidikan karakter. Bahkan di luar jam belajar penguatan pendidikan karakter sangat terlihat, misalnya cara peserta didik bersimpati maupun berimpati terhadap teman-temannya, sehingga cara anak berkomunikasi dengan sesama teman dapat kita amati tanpa sepengetahuan anak. Jadi sangat diperlukan guru piket dalam jam-jam seperti ini.
c. Penilaian
Penilaian dilaksanakan secara kognitif, afektif, dan psikhomotor, guru wajib melakukan pengamatan sikap berkaitan dengan pembentukan nilai-nilai utama karakter yang dibangun melalui observasi. Penilaian juga dilakukan diluar jam belajar secara pengamatan, baik lansung maupun tidak langsung.
d. Tindak lanjut
Tindak lanjut pengamatan hasil pengamatan sikap berkarakter nilai-nilai utama perlu dilakukan guru, jika terdapat sikap siswa yang belum sesuai dengan arah tujuan pembentukan nilai-nilai utama karakter, guru wajib melakukan pembinaan secara berkelanjutan sampai pembentukan nilai-nilai karakter menjadi pembiasaan dan budaya hidup siswa.
2. Melalui PPK Berbasis Budaya Sekolah, bentuk kegiatannya, antara lain:
a. Rutin:
    1) Religius:
        Kegiatan pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran target hafal ayat suci  Al quran perjenjang kelas. Oleh sebab itu dilaksanakan ekstra kurikuler Baca Tulis Al Quran.
Baca Tulis Al Quran
Tujuan:
·                   Mengembangkan potensi keterampilan membaca dan menulis bahasa Arab.
·                   Meningkatkan kompetensi peserta didik di bidang baca tulis Al Quran
·                  Meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap agama islam. (Merayakan hari besar agama).

2) Nasionalisme:
·         Melaksanakan upacara bendera pada hari Senin dan/atau tanggal 17 .
·         Pembiasaan hormat bendera sebelum dan sesudah pembelajaran di kelas.
·         Pembiasaan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 oktaf 15 sebelum pelajaran dimulai.
·         Menyayikan lagu-lagu nasional menjelang dan setelah selesai pelajaran.
·         Selalu menanamkan sikap cinta tanah air dengan memberikan “Salam Aku Bangga Indonesia Tanah Airku (Abita)” sebelum dan sesudah pelajaran dimulai.
      3) Mandiri:
          Kegiatan mandiri dilaksanakan sebagai Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
·         Kegiatan pengembangan diri secara rutin kelas I s/d kelas VI.
·         Pembiasaan 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Salim, dan Santun), Mengucapkan salam, menyapa dengan spontan kepada guru / teman.
·         Gerakan Literasi Sekolah adalah membiasakan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
     4) Gotong-royong:
Kegiatan pengembangan diri dilaksanakan secara spontan dan terprogram antar lain : kerja bakti, bakti sosial, ta’ziah, kunjungan terhadap teman yang sakit infak /peduli sosial dan lain-lain.
·         Pembiasaan menjaga kebersihan dan membuang sampah ditempatnya.
·         Melaksanakan kegiatan senam bersama setiap hari Jum’at.
·         Melaksanakan kegiatan Jum’at bersih.
·         Melaksanakan kegiatan gosok gigi, cuci tangan, potong kuku tiap hari Sabtu.
·         Melaksanakan kebersihan lingkungan kelas setiap hari sesuai jadwal  piket.
·         Berpakaian seragam secara lengkap sesuai tata tertib sekolah.
     5) Integritas:
         Kegiatan pembiasaan datang ke sekolah regu piket tepat waktu, merasa simpati dan impati setiap ada musibah atau halangan secara spontan. Sopan santun kepada orang yang lebih tua, sesama teman, serta bertanggung jawab setiap tugas diberi guru, berpikir jujur dalam segala hal.
Pemerintah telah berusaha dalam menangulangi permasalahan yang menimpa generasi penerus bangsa Indonesia. Pemerintah berusaha memperbaiki krisis mental dan karakter generasi muda ini tentunya  tidak akan berhasil jika masyarakat tidak peduli dengan masalah seperti ini. Pendidikan tentunya garda yang paling depan dalam mengembalikan Penguatan Pendidikan Karakter generasi penerus terutama peserta didik yang ada di hadapan kita.


Jangan pernah terlena, bahkan berpendapat bahwa kemerdekaan ini adalah abadi. Tidak ada yang abadi, yang abadi itu adalah ketidakabadian. Apakah kita membiarkan Indonesia  dalam keterpurukan dulu, baru kita bangkit dalam keterpurukan. Tentunya hal ini tidak perlu terjadi pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai. Kita bersama-sama merasa memiliki atau andarbeni (bahasa Jawa) terhadap bangsa Indonesia. Seperti pepatahnya Erol Ozan, yaitu “Some beautiful path can’t be discovery without getting lost”. Yang artinya beberapa jalan yang indah tidak dapat ditemukan tanpa tersesat terlebih dahulu. Semoga bangsa Indonesia yang saat ini ada yang berpendapat baru tersesat, mudah-mudahan segera menyadari dan segera bangkit dalam keterpurukan mental dan karakter generasi penerus bangsa. Mari kita lakukan dari diri kita masing-masing, lakukan sekecil apapun yang dengan cinta yang sangat besar.

Selasa, 25 April 2017

Senin, 06 Maret 2017

Pendidikan Karakter di Sekolah Melalui "GLS"

Pendidikan Karakter di Sekolah 
Melalui "GLS"

Permasalahan di Indonesia sangat komplek, bahkan sudah mendekati permasalahan yang sangat pelik. Kebobrokan mental dan karakter peserta didik merupakan permasalahan yang sulit diuraikan, bagaikan benang kusut yang sulit ditemukan ujung dan pangkalnya. Tidak dapat bisa ditemukan akar permasalahannya. Masing-masing elemen saling menyalahkan, apakah salah di bidang pendidikan di rumah, sekolah, atau di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Mereka saling menyalahkan, tapi mereka tidak sadar kalau semua pihak mempunyai kontribusi masing-masing. Tantangan pendidikan sekarang ini sudah berada pada titik kulminasi, Untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berkarakter semakin sulit bahkan semakin langka.

Budaya-budaya yang lama seperti: gotong royong, harga menghargai, toleransi, dan kejujuran dianggapnya sudah kuno, sudah tidak zamannya lagi. Budaya seperti itu kini sudah luntur. Yang ada adalah bagaimana menjadikan generasi muda yang cerdas, tanggap perkembangan zaman tidak gagap teknologi. Mereka lupa bahwa pembentukan karakter itu sangat sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Mereka tidak sadar bahwa budaya yang demikian itu sebenarnya sudah dimiliki bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Karena bangsa Indonesia ingin mencetak generasi muda yang cerdas dan tanggap dengan globalisasi. Maka mereka lupa bahwa pendidikan karakter yang sudah diwariskan nenek moyang dahulu dianggapnya kuno sehingga ditinggalkan. 

Untuk mengembalikan budaya karakter yang baik tidak seperti membalikkan telapak tangan. Pemerintah membutuhkan komitmen yang pasti dan serius. Oleh sebab itu membangun integritas di semua lini sangat dibutuhkan oleh pemerintah untuk mewujudkan tujuan bangsa Indonesia. Menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur spiritual materiil berdasarkan pancasila agar segera terwujud. Membangun integritas di satuan pendidikan sangat tepat sasaran, karena satuan pendidikan adalah tempat dimana para generasi muda penerus bangsa menimba segala ilmu di satuan pendidikan tersebut. Mereka mendapatkan pendidikan dengan konsisten dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan. Mereka setiap harinya mendapatkan pendidikan sikap, pengetahuan, dan keterampilan oleh guru-guru yang profesional.      

Guru yang profesional tentunya berada di satuan pendidikan yang memiliki integritas tinggi di dalamnya.  Kultur sekolah sangat berpengaruh terhadap peningkatan prestasi dan pembentukan karakter serta budi pekerti yang baik kepada peserta didik. Untuk menciptakan kultur sekolah yang positif dibutuhkan adanya kesadaran yang tinggi semua warga sekolah yang ada. Guru sebagai ujung tombak di lapangan harus mampu memberikan suri teladan yang baik. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan di Indonesia sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Demikin juga dalam: ... dalam
Gerakan Literasi Sekolah merupakan salah satu bentuk kepedulian sekolah sebagai mitra pemerintah ikut bertanggung jawab dalam mengembalikan pendidikan karakter serta budi pekerti generasi penerus bangsa melalui program GLS kepada peserta didik. Dalam rangka mencapai tujuan akhir pendidikan yang diharapkan oleh satuan pendidikan, maka SD Negeri 02 Jaten merasa perlu untuk menjawab tuntutan di era globalisasi tersebut. SD Negeri 02 Jaten melakukan berbagai kegiatan untuk memberikan pembekalan dalam rangka peningkatan profesionalisme seluruh stake holder sekolah. Bahkan yang paling penting adalah pembentukan karakter peserta didik yang semakin langka pada saat ini. SD Negeri 02 Jaten berusaha untuk menghasilkan out put “ Unggul dalam Mutu Terpuji karena Perilaku”. 
“ Unggul dalam Mutu Terpuji karena Perilaku”, merupakan integritas SD Negeri 02 Jaten yang harus dilakukan seluruh stake holder yang ada, untuk dijadikan budaya serta iklim di satuan pendidikan. Karakter dan kepribadian yang telah dimiliki dan diciptakan di SD Negeri 02 Jaten harus dipertahankan dan diimplementasikan secara sunguh-sungguh dan berkelanjutan  demi mewujudkan visi dan misi serta tujuan di SD Negeri 02 Jaten.

Kamis, 23 Februari 2017

PRESTASI DI TAHUN 2017

PRESTASI DI TAHUN 2017


Rabu, 22 Februari 2017

Motivasi Membangun Karakter Peserta Didik melalui GLS

Motivasi Membangun Karakter Peserta Didik melalui          Gerakan Literasi sekolah "GLS"



“Motivasi Membangun Karakter Peserta didik melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS). SD Negeri 02 Jaten Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar Tahun Ajaran 2016/2017 dengan jumlah siswa  56 anak. Pembiasaan Gerakan Literasi Sekolah sangat penting dilaksanakan setiap hari karena karakter peserta didik saat ini cenderung acuh tak acuh dan kurang peduli terhadap lingkungan khususnya lingkungan sekolah. Oleh sebab itu tindakan penerapan Gerakan Literasi Sekolah harus dilaksanakan, setelah dilaksanakan lambat laun karakter siswa semakin baik mengalami perkembangan dan sesuai yang diharapkan sekolah dan orang tua perserta didik. Akhirnya GLS ini juga sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Pada awal jumlah siswa yang mempunyai karakter yang baik hanya sedikit dan prestasi belajar yang mencapai nilai KKM  sangat rendah. Setelah dilakukan motivasi membangun karaktek peserta dididk melalui GLS ini. Peningkatan jumlah peserta didik yang memiliki karakter baik sangat memuaskan dan prestasi belajar siswa mencapai KKM sangat siknifikan. Jumlah peserta didik yang memiliki karaktek baik dan prestasi belajar yang mencapai ketuntasan nilai KKM sangat signifikan. Bahkan sangat mempenggaruhi prestasi belajar peserta didik baik dalam akademik maupun non akademik. Terpengaruhnya program akademik maupun non akademik di Sekolah Dasar Negeri 02 Jaten sangat segnifikan dan dapat membantu terwujudnya visi dan misi sekolah. Harapan Sekolah Dasar  Negeri 02 Jaten yang mempunyai visi dan misi “Unggul dalam Mutu Terpuji karena Perilaku akan tercapai dengan memuaskan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulhan bahwa “ Motivasi Membangun Karakter Peserta Didik melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) mendapatkan hasil yang sangat memuaskan dan hasil prestasi belajar siswa kelas VI SD Negeri 02 Jaten Kabupaten Karanganyar baik dari akademik maupun akademik sesuai yang diharapkan sekolah, orang tua, dan masyarakat. Harapan Bangsa Indonesia membangun Sumber Daya Manusia melau pendidikan karakter akan dapat diujudkan dengan segera. Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang memiliki karakter jujur, disiplin, kerja keras, tidak mudah menyerah, dan selalu mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa tidak seperti membalikkan telapak tangan, dibutuhkan Pembangunan Nasional yang berkelanjutan.

Sabtu, 11 Februari 2017

Pondasi Integritas SDN 02 Jaten Unggul dalam Mutu Terpuji Karena Perilaku

PONDASI INTEGRITAS SD NEGERI 02 JATEN KABUPATEN KARANGANYAR “UNGGUL DALAM MUTU TERPUJI KARENA PERILAKU”
Sri Handayani *)
A.  PENGANTAR
Satuan pendidikan adalah tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Belajar dan mengajar tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa. Berbagai kegiatan seperti membiasakan seluruh warga sekolah tentang pendidikan karakter, antara lain tentang kedisiplinan, kejujuran, saling menghormati, toleransi, bahkan membiasakan hidup bersih harus ditumbuhkan di lingkungan sekolah.
Budaya sekolah dipegang bersama Kepala Sekolah, guru, staf administrasi, dan siswa sebagai dasar dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. Sekolah atau satuan pendidikan menjadi wadah utama dalam transmisi kultur antar generasi. Kultur sekolah berpengaruh terhadap peningkatan prestasi, motivasi siswa untuk berprestasi, serta pembentukan karakter semua warga sekolah yang ada.
Satuan pendidikan harus memiliki integriatas yang tinggi dalam membentuk budaya kultur yang positif. Kebiasaan tentang kedisiplinan, kejujuran, kerja keras, tidak gampang menyerah, dan selalu berdoa merupakan kebiasaan, nilai, dan keteladanan yang harus senantiasa dijaga dan dipegang teguh dalam kehidupan di sekolah. Agar kebiasaan-kebiasaan positif tersebut selalu terpelihara dan mendarah daging dalam diri seluruh warga sekolah yang selanjutnya diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, dibutuhkan adanya ”sense of belonging” atau rasa memiliki terhadap sekolah. Hal ini sesuai dengan Permen 19 Tahun 2007 tentang Stantar Pengelolaan Sekolah Dasar dan Menengah sebagai berikut:
Pasal 1
(1) Setiap satuan pendidikan wajib memenuhi standar pengelolaan pendidikan yang berlaku secara  nasional
(2) Standar pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.

Sedangkan lampiran Peraturan Menteri itu adalah tentang visi dan misi di satuan pendidikan.
 


*) SD Negeri 02 Jaten, email: hand_sri@yahoo.com
B.  MASALAH
            Permasalahan pendidikan di Indonesia sangat komplek, bahkan sudah mendekati permasalahan yang sangat pelik. Kebobrokan mental dan karakter siswa merupakan permasalahan yang sulit diuraikan, bagaikan benang kusut yang sulit untuk ditemukan ujung dan pangkalnya. Tantangan pendidikan dewasa ini untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berkarakter semakin sulit bahkan semakin langka.
            Budaya-budaya yang lama seperti: gotong royong, harga menghargai, toleransi, dan kejujuran dianggapnya sudah kuno, sudah tidak zamannya lagi. Budaya seperti itu kini sudah luntur. Yang ada adalah bagaimana menjadikan generasi muda yang cerdas, tanggap perkembangan zaman tidak gagap teknologi. Mereka lupa bahwa pembentukan karakter itu sangat sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Mereka tidak sadar bahwa budaya yang demikian itu sebenarnya sudah dimiliki bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Karena bangsa Indonesia ingin mencetak generasi muda yang cerdas dan tanggap dengan globalisasi. Maka mereka lupa bahwa pendidikan karakter yang sudah diwariskan nenek moyang dahulu dianggapnya kuno sehingga ditinggalkan.
            Untuk mengembalikan budaya karakter yang baik tidak seperti membalikkan telapak tangan. Pemerintah membutuhkan komitmen yang pasti dan serius. Oleh sebab itu membangun integritas di semua lini sangat dibutuhkan oleh pemerintah untuk mewujudkan tujuan bangsa Indonesia. Menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur spiritual materiil berdasarkan pancasila agar segera terwujud. Membangun integritas di satuan pendidikan sangat tepat sasaran, karena satuan pendidikan adalah tempat dimana para generasi muda penerus bangsa menimba segala ilmu di satuan pendidikan tersebut. Mereka mendapatkan pendidikan dengan konsisten dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan. Mereka setiap harinya mendapatkan pendidikan sikap, pengetahuan, dan keterampilan oleh guru-guru yang profesional.
            Guru yang profesional tentunya berada di satuan pendidikan yang memiliki integritas tinggi di dalamnya.  Kultur sekolah sangat berpengaruh terhadap peningkatan prestasi dan pembentukan karakter yang baik peserta didik. Untuk menciptakan kultur sekolah yang positif dibutuhkan adanya kesadaran yang tinggi semua warga sekolah yang ada. Guru sebagai ujung tombak di lapangan harus mampu memberikan suri tauladan yang baik. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan di Indonesia sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
       Namun tujuan hingga saat ini belum terealisasikan secara optimal sehingga mutu pendidikan Indonesia tergolong rendah dalam konteks nasional, regional maupun internasional. Untuk itu dikeluarkan berbagai peraturan perundangan yang terkait dengan upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, antara lain UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang  Guru dan Dosen, PP Nomor 32 Tahun 2013, perubahan atas PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan beberapa Permendiknas sebagai pelaksanaan dari SPN antara lain, Permendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, dan Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses yang  semuanya ditujukan untuk peningkatan kualitas pendidikan.
       Untuk meningkatkan kualitas pendidikan perlu adanya standar penilaian hasil pendidikan baik yang dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah. Hal ini untuk mengetahui sesuatu yang harus diperbaiki dan ditingkatkan lagi. Semuanya dilakukan semata-mata untuk mewujudkan sumber daya manusia yang bermartabat dan berkarakter sehingga dapat membuat bangsa Indonesia menjadi lebih maju sehingga tidak kalah bersaing dengan bangsa-bangsa yang maju lainnya.
       Output dari mutu pendidikan yang baik akan dapat bersaing di era globalisasi dengan mengedepankan kepribadian yang luhur. Penilaian dilakukan untuk mengetahui seberapa besar ilmu yang diserap oleh peserta didik, ini dinilai oleh peserta dididk, dan juga untuk seberapa efektif kurikulum yang diberlakukan di satuan pendidikan tersebut, juga dinilai oleh pemerintah. Satuan pendidikan harus memiliki integritas yang tinggi dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
       Integritas adalah wujud dari keseriusan di satuan pendidikan untuk mencapai suatu tujuan. Membangun integritas di satuan pendidikan sangat dibutuhkan keseriusan, ketelatenan, dan berkesinambungan. Satuan pendidikan membutuhkan trik-trik atau cara-cara tertentu untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh sebab itu seluruh stake holder sekolah harus mampu menyambut tantangan dengan menyiapkan diri sebaik mungkin. Baik kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, petugas perpustakaan, bendahara, tenaga kebersihan, bahkan komite sekolah, dan Paguyupan Orang tua siswa (POM) harus dipersiapkan mencapai tujuan akhir pendidikan yang diharapkan oleh satuan pendidikan.
       Dalam rangka mencapai tujuan akhir pendidikan yang diharapkan oleh satuan pendidikan, maka SD Negeri 02 Jaten merasa perlu untuk menjawab tuntutan di era globalisasi tersebut. SD Negeri 02 Jaten melakukan berbagai kegiatan untuk memberikan pembekalan dalam rangka peningkatan profesionalisme seluruh stake holder sekolah. Bahkan yang paling penting adalah pembentukan karakter peserta didik yang semakin langka pada saat ini. SD Negeri 02 Jaten berusaha untuk menghasilkan out put “ Unggul dalam Mutu Terpuji karena Perilaku”.
       “ Unggul dalam Mutu Terpuji karena Perilaku”, merupakan integritas SD Negeri 02 Jaten yang harus dilakukan seluruh stake holder yang ada, untuk dijadikan budaya serta iklim di satuan pendidikan. Karakter dan kepribadian yang telah dimiliki dan diciptakan di SD Negeri 02 Jaten harus dipertahankan dan diimplementasikan secara sunguh-sungguh dan berkelanjutan  demi mewujudkan visi dan misi serta tujuan di SD Negeri 02 Jaten.
C. PEMBAHASAN DAN SOLUSI
SD Negeri 02 Jaten dalam mewujudkan integritas perlu adanya kurikulum yang tepat, peraturan akademik harus ditegakkan, serta stake holder yang ada harus komitmen bersama-sama. Kurikulum SD Negeri 02 Jaten mencakup sikap (afektif), ketrampilan (psikomotor), dan pengetahuan (kognitif). Untuk pendidikan dasar bertujuan meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, dan ketrampilan sebagai bekal untuk hidup mandiri serta menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Dengan demikian Kurikulum merupakan acuan mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. Kurikulum SD Negeri 02 Jaten, Kabupaten Karanganyar dikembangkan sebagai perwujudan komitmen bersama, karena disusun oleh satu tim penyusun yang terdiri dari unsur sekolah dan komite sekolah.
Kurikulum ini merupakan sebuah dokumen yang akan diimplementasikan sebagai panduan proses pembelajaran, di dalam kelas maupun di luar kelas. Sehingga pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien yang mampu membangkitkan aktivitas sekaligus kreatifitas peserta didik. Dalam hal ini para pelaksana kurikulum dituntut untuk melaksanakan sesuai dengan karakteristik SD Negeri 02 Jaten,  Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar yang merupakan daerah pertanian, industri dan pariwisata. Para pendidik diharapkan menciptakan suasana pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan berdaya guna bagi peserta didik.


 
Kurikulum SD Negeri 02 Jaten disusun bertujuan:
1.    Menjadikan Kurikulum yang sesuai dengan potensi daerah, sosial budaya masyarakat, dan peserta didik.
2.    Sebagai acuan dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah.
3.    Menciptakan suasana pembelajaran di sekolah yang bersifat mendidik, mencerdaskan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik.
4.    Menciptakan pembelajaran efektif, demokratis, menantang, menyenangkan, dan mengasikkan.
5.    Mempersiapkan insan Indonesia untuk memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warganegara yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.
Visi SD Negeri 02 Jaten adalah: “Unggul dalam Mutu Terpuji karena Perilaku”. Dan diuraikan pula dalam misinya, sebagai berikut:
1.    Melaksanakan pembelajaran yang berkualitas untuk meningkatkan mutu pendidikan .
2.    Melaksanakan aktivitas yang berorientasi pada teknologi informasi dan komunikasi namun tetap mengedepankan akar budaya bangsa Indonesia yang santun.
3.    Membangun sikap berperilaku siswa yang aktif, kreatif, cerdas, mandiri, dan baik demi meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Tuhan Yang Esa.
4.    Meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa
5.    Berkarakter Bangsa, berlaku sopan, jujur, adil dan berbudi luhur
6.    Berbakti kepada guru, orang tua dan sesamanya
7.    Menegakkan disiplin waktu dan taat tertib yang berlaku
8.    Membentuk siswa aktif, kreatif, cerdas dan mandiri
9.    Meningkatkan mutu pendidikan berorientasi pada informasi teknologi yang tetap mengedepankan akar budaya bangsa Indonesia.
10. Menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait demi kelancaran Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
            Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar mengacu pada tujuan umum pendidikan dasar yaitu meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Sedangkan secara khusus, sesuai dengan visi dan misi sekolah maka tujuan SD Negeri 02 Jaten. pada Tahun pelajaran 2016/2017 sekolah mengantarkan peserta didik untuk:
1.    Mengoptimalkan proses pembelajaran dengan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered learning), antara lain CTL, Pakem, serta layanan Bimbingan dan Konseling.
2.    Memperoleh kejuaraan lomba siswa berprestasi, olympiade sains, festival kreatifitas siswa baik di tingkat kecamatan, kabupaten, maupun provinsi.
3.    Melestarikan budaya daerah melalui mulok Bahasa Jawa dengan indikator 80 % siswa mampu menggunakan bahasa Jawa sesuai konteks.
4.    Menjadikan 80% siswa memiliki kesadaran terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya.
5.    Memiliki jiwa cinta tanah air dan berkepribadian yang kuat yang diinternalisasikan lewat kegiatan pramuka.
6.    Mewujudkan Visi dan Misi sekolah
7.    Meningkatkan kegiatan belajar mengajar yang berkualitas
8.    Mempersiapkan siswa dalam melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi diterima di SMP Negeri 100 %
9.    Mempersiapkan siswa sebagai bagian dari anggota masyarakat yang mandiri dan bermanfaat
10. Menjadikan anak berjiwa nasionalisme, berkarakter bangsa,  membiasakan anak berbahasa Indonesia dengan baik dan benar pada setiap hari Senin dan Selasa.
11. Mewujudkan perilaku siswa dalam melestarikan budaya daerah melalui mulok bahasa daerah serta membiasakan anak bersopan santun dengan berbahasa jawa setiap hari Rabu dan Kamis
12. Membekali anak menghadapai era globalisasi dengan membiasakan ”Habited English Day”  berbahasa Inggris pada setiap hari jumat dan sabtu.
13. Membekali anak menghadapi era globalisasi dan modernisasi tetapi tetap berbudaya dengan memperkenalkan anak kecanggihan teknologi informatika dengan membuka informasi lewat internet melalui pembelajaran TIK.
            Pengembangan diri adalah kegiatan  yang  bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik  untuk  mengembangkan  dan  mengekspresikan diri  sesuai dengan  kebutuhan, bakat, minat,  setiap  peserta  didik  sesuai  dengan  kondisi  sekolah .
1. Jenis Kegiatan
Kegiatan pengembangan diri dilaksanakan agar tujuan dari visi dan misi sekolah      dapat tercapai secara maksimal.
a.    Kegiatan pengembangan diri dilaksanakan secara spontan dan terprogram antar lain : kerja bakti, bakti sosial, ta’ziah, kunjungan terhadap teman yang sakit infak /peduli sosial dan lain-lain.
b.    Kegiatan pengembangan diri secara rutin kelas I s/d kelas VI.
Ø  Pembiasaan hormat bendera selum pembelajaran dikelas.
Ø  Pembiasaan 5 S ( senyum, sapa, salam, salim, dan santun )
Ø  Pembiasaan menjaga kebersihan dan membuang sampah ditempatnya.
Ø  Menyayikan lagu-lagu nasional menjelang dan setelah selesai pelajaran.
Ø  Melaksanakan upacara bendera pada hari Senin dan/atau tanggal 17 .
Ø  Melaksanakan kegiatan senam bersama setiap hari Jum’at.
Ø  Melaksanakan kegiatan Jum’at bersih.
Ø  Melaksanakan kegiatan gosok gigi, cuci tangan, potong kuku tiap hari Sabtu.
Ø  Melaksanakan kebersihan lingkungan kelas setiap hari sesuai jadwal  piket.
Ø  Mengucapkan salam, menyapa dengan spontan kepada guru / teman.
Ø  Berpakaian seragam secara lengkap sesuai tata tertib sekolah.
Ø  Merayakan hari besar agama.
Ø  Gerakan Literasi Sekolah adalah membiasakan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
c.    Kegiatan pengembangan diri yang dilaksanakan secara terprogram melalui kegiatan ekstrakurikuler, meliputi aspek pembinaan sikap ilmiah, pembiasaan spiritual, aspek kemandirian, aspek kesopanan, dan aspek bimbingan belajar / konseling.
Kegiatan kelas I s/d kelas VI meliputi program wajib dan pilihan.
Program Wajib: Pramuka
Bertujuan untuk:
Ø  Sebagai pembentukan perilaku disiplin dan santun
Ø  Sebagai wahana  siswa  untuk  berlatih  berorganisasi
Ø  Melatih  siswa  untuk  trampil  dan  mandiri
Ø  Melatih  siswa  untuk  mempertahankan  hidup
Ø  Memiliki  jiwa  sosial  dan peduli  kepada  orang  lain
Ø  Memiliki  sikap  kerja  sama  kelompok
Ø  Dapat  menyelesaikan  permasalahan  dengan  tepat dan cepat
Program Pilihan:
1.    Kesenian
           Bertujuan untuk:
Ø  Mengembangkan bakat dan minat siswa
Ø  Melestarikan budaya bangsa sebagai akar budaya nasional
2.    Olah Raga
           Bertujuan untuk:
Ø  Melatih/mengembangkan bakat dan minat siswa
Ø  Melatih untuk berorganisasi
3.    Bahasa Inggris
           Ekstrakurikuler Bahasa Inggris.
           Tujuan:
Ø  Mengembangkan  kompetensi ketrampilan berbahasa  Inggris   sebagai
          bahasa internasional.
4.    Teknologi Informatika
          Ekstrakurikuler pilihan  sekolah adalah Teknologi Informatika.  
          Tujuan :
Ø  Memberikan dasar  kompetensi  kecakapan  hidup  yang sesuai dengan
          tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
5.    Baca Tulis Al Quran
          Tujuan:
Ø  Mengembangkan potensi keterampilan membaca dan menulis bahasa Arab.
Ø  Meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap agama islam.
Pendidikan kecakapan hidup dalam pengembangannya terintregrasi dengan semua Muatan Pelajaran. Aspek kecakapan hidup yang dikembangkan meliputi kecakapan hidup personal dan sosial.
1.  Kecakapan hidup personal
a.    Kesadaran diri: Jujur, disiplin, kerja keras, ulet, bertanggungjawab, toleransi, suka menolong, rela berkorban, peduli terhadap diri dan orang lain, peduli lingkungan.
b.    Kecakapan berpikir. Cakap mencari informasi melalui kegiatan membaca, observasi, bertanya, menulis, bercerita melalui kegiatan program membaca.
2.  Kecakapan Sosial
a.    Kecakapan berkomunikasi secara lisan dan tertulis.
b.    Kecakapan bekerja sama dan saling menghargai.
Kurikulum Sekolah Dasar Negeri 02 Jaten ini diharapkan dapat dilaksanakan dengan secara maksimal, sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi lebih bermakna, menantang, kreatif, efektif, dan menyenangkan sehingga memiliki daya guna bagi peserta didik untuk menempuh pendidikan selanjutnya atau kelak terjun ke masyarakat.
D. KESIMPULAN DAN HARAPAN PENULIS
Kesimpulan dari penelitian ini adalah budaya dan iklim sekolah bukanlah suatu sistem yang lahir sebagai aturan yang logis atau tidak logis, pantas atau tidak pantas yang harus dan patut ditaati dalam lingkungan sekolah, tetapi budaya dan iklim sekolah harus lahir dari lingkungan suasana budaya yang mendukung semua pihak melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, rela, alami, dan sadar bahwa apa yang dilakukan muncul dengan sendirinya tanpa harus menunggu perintah atau tekanan dari manapun ataupun kepala sekolah sebagai atasan dari satuan pendidikan. Semua pihak yang ada di satuan pendidikan melakukan secara spontanitas berdasarkan kata hati karena didukung iklim lingkungan yang menciptakan kesadaran kita dalam lingkungan sekolah.
Pemahaman bahwa budaya dan iklim sekolah mempunyai sifat yang sama, tidak berarti bahwa tidak akan terdapat sub-budaya di dalam budaya sekolah. Oleh karena itu budaya yang terbentuk dalam lingkungan satuan pendidikan merupakan karakteristik sekolah adalah budaya dominan atau budaya yang kuat, dianut, diatur dengan baik, dan dirasakan bersama secara luas. Makin banyak warga sekolah yang menerima nilai-nilai budaya karakter, menyetujui gagasan berdasarkan kepentingan dan merasa sangat terikat pada nilai yang ada maka makin kuat budaya tersebut. Karena para warga sekolah memiliki pengalaman yang diterima oleh semua stake holder yang ada di satuan pendidikan. Hal ini bukan berarti bahwa warga sekolah yang stabil memiliki budaya yang kuat, karena nilai inti yaitu budaya karakter dari budaya-budaya yang ada di satuan pendidikan harus dipertahankan dan dijunjung tinggi.
Untuk menciptakan budaya sekolah yang kuat dan positif perlu dibarengi dengan rasa saling percaya dan saling memiliki. Memerlukan perasaan bersama, intensitas perlu adanya kontrol perilaku individu dan kelompok serta memiliki satu tujuan dalam menciptakan perasaan dalam satu visi, misi, dan tujuan sekolah. Adapun manfaat yang diperoleh dengan adanya budaya dan iklim sekolah yang kuat, kondusif, dan bertanggung jawab adalah:
a.  Menjamin kualitas kerja yang baik.
b.  Membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal.
c.   Lebih terbuka dan transparan.
d.  Menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi.
e.  Meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan.
f.    Meningkatkan kepuasan kerja.
g.  Meningkatkan kedisiplinan.
h.  Muncul keinginan selalu ingin berbuat.
i.    Selalu belajar dan berprestasi.
j.    Selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain, dan diri sendiri.
Dengan terciptanya budaya dan iklim yang kondusif di satuan pendidikan maka tantangan pendidikan dewasa ini untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berkarakter semakin sulit bahkan semakin langka pasti akan bias segera terselesaikan. Dan benang kusut yang tidak bisa diurai, maka dengan keteguhan dan berkelanjutan akan dapat terurai dengan baik.
Harapan penulis jika semua satuan pendidikan yang ada di Indonesia bersama-sama membangun integritas yang baik melalui seperangkat kurikulum yang tertata dengan baik dan diimplementasikan dengan sungguh-sungguh sesuatu yang sulit akan menjadi mudah. Kekonsistenan dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia harus kita wujudkan.
Memberi teladan itu mudah tetapi menjadi teladan itu tidak mudah”, (M. Furqon Hidayatullah). Mari kita memulainya dari kita sendiri. Kebanyakan orang gagal meraih cita-citanya bukan karena tidak mampu, karena tidak berkomitmen. (Zig Ziglar). Untuk itu komitmen integritas satuan pendidikan sangat dianjurkan agar tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia, untuk mewujudkan generasi penerus yang cerdas dan berkarakter segera terwujud.











DAFTAR PUSTAKA
                       
Ahmad Sjaujah. 1994. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengaajar Pendidikan Dasar. Jakarta: Balai Pustaka.
Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Gulo, W. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Grasindo.
Hadi Sutrisno. 1982. Metodologi Research Pendidikan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
Lalu Sumayang.2003. Manajemen produksi dan Operasi. Jakarta : Salemba Empat
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Melvin L, Silberman. 2004. Active Learning: 101 Cara Belajar Aktif. Bandung: Falah Production.
M. Furqon Hidayatullah.2009. Guru  Sejati Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas. Surakarta: Yuma Pustaka.
Moleong. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, D. 2005. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Suparlan. 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dari Konsepsi sampai dengan Implementasi. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Syaiful Sagala. 2005. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta. CV Eko Jaya.
Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang  Guru dan Dosen
Wina Sanjaya. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
             ___. 2006.  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta: Depdiknas.

             ___. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Depdiknas.