Tema Gambar Slide 1

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Kamis, 27 Januari 2022

 


Juara 1 Apresiasi GTK Penilik PAUD Tingkat Kabupaten

Terima kasih atas segala nikmat dan amanah yang engkau berikan kepada hamba pada hari ini danseterusnya ya Allah. Setelah hijrahku dari seorang pendidik guru Sekolah Dasar menjadi seorang penilik PAUD merupakan tantangan dan ujian begitu besar, tidak semudah orang bilang seperti membalikkan telapak tangan. Setelah hampir menginjak satu tahun aku berusaha membuktikan bahwa aku patut dan layak menjadi seorang penilik, alhamdulillah di hari ulang tahunku yang ke-54 terbukti, Allah memberikan kemudahan untuk menghantarkan aku menjadi seorang Penilik PAUD Inspiratif masuk nominasi 20 besar ke tingkat Nasional.


Jumat, 06 April 2018

GUPRES 2018

GUPRESSSSSSSS!!!!!!!!!!!!




PORTOFOLIO PRESTASI AKADEMIK


                               
NAMA      : SRI HANDAYANI, S.Pd., M.Pd.

NIP            : 196711022005012007

INSTANSI: SD NEGERI 02 JATEN – UPT PUD, NFI, DAN SD KECAMATAN JATEN

Selasa, 19 September 2017

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR
Sri Handayani, S.Pd., M.Pd. (hand.sri0211@gmail.com)   

In this life we cannot always do great things. But we can do small thing with great love.
Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar.
( Thomas Jefferson)
Pendidikan adalah unsur yang sangat penting dalam pembangunan bangsa Indonesia. Sumber Daya Manusia adalah unsur utama dalam mengubah bangsa Indonesia sejajar dengan negara-negara berkembang yang ada di Asia Tenggara bahkan di belahan dunia. Oleh sebab itu pendidikan merupakan “makanan yang sangat empuk” dalam ajang-ajang kampanye di pilihan bupati atau walikota, pilihan kepala daerah, bahkan dalam pemilihan presiden.

Pendidikan juga merupakan salah satu janji pasangan Bapak Joko Widodo dan Yusuf Kalla dalam “ Nawa Cita”, ini merupakan salah satu 9 Agenda Prioritas Jokowi-JK. Dalam Nawa Cita yang ke lima berbunyi, “Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” ...

Apakah sudah berhasil Jokowi-JK dalam mengemban amanah seluruh rakyat Indonesia?
Pendidikan saat ini menjadi sorotan kita semua, terutama media masa-media masa menyoroti tentang bagaimana pendidikan kita saat ini. Baru-baru ini kita telah dihebohkan tentang “Anak Sekolah Dasar kelas 4 sudah bisa membuat kebohongan palsu di media masa”, nah salah siapakah ini? Bahkan perkelahihan, narkoba, pelecehan seksual marak di kalangan anak muda bahkan di kalangan pendidikan sekolah dasar. Oleh sebab itu, bangsa Indonesia sangat prihatin dengan masalah yang sangat pelik ini. Kita baru saja memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, sudah 72 tahun kita merdeka, 72 tahun kita mengemban amanah para pahlawan kemerdekaan untuk melanjutkan cita-cita perjuangan mereka yang telah gugur di medan perang, sampai titik darah yang penghabisan. Apakah kita terlalu “evoria” atau bahagia sehingga kita lupa, apakah tujuan utama kita dalam mengisi kemerdekaan?

Apakah kita sudah “MERDEKA” dalam arti yang sebenarnya?
Apakah kita masih “DALAM PENJAJAHAN”?
Permasalahan di Indonesia sangat komplek, bahkan sudah mendekati permasalahan yang sangat pelik. Kebobrokan mental dan karaktek di kalangan remaja, khususnya peserta didik merupakan permasalahan yang sulit diuraikan, bagaikan benang kusut yang sulit diuraikan pangkal dan ujungnya. Tidak dapat ditemukan akar permasalahannya. Masing-masing institusi saling menyalahkan. Masyarakat menyalahkan pihak pendidikan, pihak pendidikan menyalahkan pemerintah yang mengambil kebijakan. Mereka saling menyalahkan, tapi mereka tidak sadar kalau semua pihak mempunyai kontribusi masing-masing. Mari kita memulai dari diri kita masing-masing!

Sekolah Dasar merupakan pondasi dasar pembentukan mental dan karakter generasi bangsa, wajar pendidikan 9 tahun dimulai dari pendidikan dasar. Tentunya setelah peserta didik mendapatkan bekal karakter dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ataupun dalam keluarga masing-masing. Mereka mulai mengenyam pendikan formal di Sekolah Dasar. Oleh sebab itu Sekolah Dasar merupakan pondasi yang sangat bagus untuk membentuk mental dan karakter peserta didik menuju generasi yang bermartabat. Penguatan pendidikan karakter merupakan salah satu usaha dalam mencetak generasi penerus yang cerdas dan bermartabat di masa depan.

Penguatan pendidikan karakter dapat kita laksanakan di sekolah kita masing-masing, dengan cara yang beraneka ragam. Guru harus aktif, kreatif, dan inovatif. Agar peserta didik mengidolakan kita, agar peserta didik mengidolakan kita. Sebagai seorang guru yang sangat dekat dengan peserta didik, wajib memberikan contoh yang sangat nyata, contoh riil di bisa dicontoh oleh peserta didik kita. Setiap hari selama 7 jam dalam sehari, selama 196 jam setiap bulannya, bahkan di setiap tahunnya kita menghabiskan waktu dengan peserta didik selama 2. 352 jam, dan selama 14.112 jam peserta didik menghabiskan waktu dengan kita. Tentunya dalam waktu yang sekian itu, kita dapat mempengaruhi karakter dan kebiasaan-kebiasaan pada peserta didik kita. Bayangkan, jika setiap pribadi-pribadi guru menyadari semua itu. Tentunya jiwa dan karakter peserta didik kita akan lebih baik. Pembiasaan-pembiasaan juga harus tercantum dalam kurikulum yang telah kita rencanakan sebagai pedoman pelaksanaan di satuan pendidikan. Selain kebiasaan yang dicontohkan dari seorang guru, tentunya harus diwajibkan di sekolahan yang sudah tercantum di Kurikulum Satuan Pendidikan.

Program Penguatan Pendidikan Karakter dilaksanakan sekolah untuk membentuk karakter siswa agar memiliki sikap nilai utama: relegius, nasionalisme, mandiri, gotong-royong, dan integritas. Untuk membentuk 5 nilai utama karakter dilaksanakan dengan 3 pendekatan, antara lain:
1. Melalui PPK Berbasis Kelas dengan mengintegrasikan nilai-nilai utama karakter ke dalam proses pembelajaran semua mata pelajaran/tema yang dilakukan oleh setiap guru di sekolah. Adapun Penguatan Pendidikan Karakter melalui tahapan-tahapan, antara lain:
a. Guru
Merancang pembentukan nilai utama karakter diintegrasikan dalam penyusunan perangkat pembelajaran, seperti: Program Tahunan, Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Penilaian. Dan yang sangat penting peran seorang guru sangat mempengaruhi PPK. Peran guru dalam PPK dilaksanakan di luar maupun di dalam jam pelajaran, bahkan di luar sekolahpun seorang guru menjadi figur atau sosok yang patut dicontoh.
b. Pelaksanaan
Dilaksanakan terintegritas dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sesuai perencanaan pembelajaran yang dirancang guru. Selain itu juga dilaksanakan sebelum dan sesudah pelajaran dimulai. Pelaksanaan di luar jam belajar juga sangat efektif  dalam penerapan penguapan pendidikan karakter. Bahkan di luar jam belajar penguatan pendidikan karakter sangat terlihat, misalnya cara peserta didik bersimpati maupun berimpati terhadap teman-temannya, sehingga cara anak berkomunikasi dengan sesama teman dapat kita amati tanpa sepengetahuan anak. Jadi sangat diperlukan guru piket dalam jam-jam seperti ini.
c. Penilaian
Penilaian dilaksanakan secara kognitif, afektif, dan psikhomotor, guru wajib melakukan pengamatan sikap berkaitan dengan pembentukan nilai-nilai utama karakter yang dibangun melalui observasi. Penilaian juga dilakukan diluar jam belajar secara pengamatan, baik lansung maupun tidak langsung.
d. Tindak lanjut
Tindak lanjut pengamatan hasil pengamatan sikap berkarakter nilai-nilai utama perlu dilakukan guru, jika terdapat sikap siswa yang belum sesuai dengan arah tujuan pembentukan nilai-nilai utama karakter, guru wajib melakukan pembinaan secara berkelanjutan sampai pembentukan nilai-nilai karakter menjadi pembiasaan dan budaya hidup siswa.
2. Melalui PPK Berbasis Budaya Sekolah, bentuk kegiatannya, antara lain:
a. Rutin:
    1) Religius:
        Kegiatan pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran target hafal ayat suci  Al quran perjenjang kelas. Oleh sebab itu dilaksanakan ekstra kurikuler Baca Tulis Al Quran.
Baca Tulis Al Quran
Tujuan:
·                   Mengembangkan potensi keterampilan membaca dan menulis bahasa Arab.
·                   Meningkatkan kompetensi peserta didik di bidang baca tulis Al Quran
·                  Meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap agama islam. (Merayakan hari besar agama).

2) Nasionalisme:
·         Melaksanakan upacara bendera pada hari Senin dan/atau tanggal 17 .
·         Pembiasaan hormat bendera sebelum dan sesudah pembelajaran di kelas.
·         Pembiasaan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 oktaf 15 sebelum pelajaran dimulai.
·         Menyayikan lagu-lagu nasional menjelang dan setelah selesai pelajaran.
·         Selalu menanamkan sikap cinta tanah air dengan memberikan “Salam Aku Bangga Indonesia Tanah Airku (Abita)” sebelum dan sesudah pelajaran dimulai.
      3) Mandiri:
          Kegiatan mandiri dilaksanakan sebagai Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
·         Kegiatan pengembangan diri secara rutin kelas I s/d kelas VI.
·         Pembiasaan 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Salim, dan Santun), Mengucapkan salam, menyapa dengan spontan kepada guru / teman.
·         Gerakan Literasi Sekolah adalah membiasakan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
     4) Gotong-royong:
Kegiatan pengembangan diri dilaksanakan secara spontan dan terprogram antar lain : kerja bakti, bakti sosial, ta’ziah, kunjungan terhadap teman yang sakit infak /peduli sosial dan lain-lain.
·         Pembiasaan menjaga kebersihan dan membuang sampah ditempatnya.
·         Melaksanakan kegiatan senam bersama setiap hari Jum’at.
·         Melaksanakan kegiatan Jum’at bersih.
·         Melaksanakan kegiatan gosok gigi, cuci tangan, potong kuku tiap hari Sabtu.
·         Melaksanakan kebersihan lingkungan kelas setiap hari sesuai jadwal  piket.
·         Berpakaian seragam secara lengkap sesuai tata tertib sekolah.
     5) Integritas:
         Kegiatan pembiasaan datang ke sekolah regu piket tepat waktu, merasa simpati dan impati setiap ada musibah atau halangan secara spontan. Sopan santun kepada orang yang lebih tua, sesama teman, serta bertanggung jawab setiap tugas diberi guru, berpikir jujur dalam segala hal.
Pemerintah telah berusaha dalam menangulangi permasalahan yang menimpa generasi penerus bangsa Indonesia. Pemerintah berusaha memperbaiki krisis mental dan karakter generasi muda ini tentunya  tidak akan berhasil jika masyarakat tidak peduli dengan masalah seperti ini. Pendidikan tentunya garda yang paling depan dalam mengembalikan Penguatan Pendidikan Karakter generasi penerus terutama peserta didik yang ada di hadapan kita.


Jangan pernah terlena, bahkan berpendapat bahwa kemerdekaan ini adalah abadi. Tidak ada yang abadi, yang abadi itu adalah ketidakabadian. Apakah kita membiarkan Indonesia  dalam keterpurukan dulu, baru kita bangkit dalam keterpurukan. Tentunya hal ini tidak perlu terjadi pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai. Kita bersama-sama merasa memiliki atau andarbeni (bahasa Jawa) terhadap bangsa Indonesia. Seperti pepatahnya Erol Ozan, yaitu “Some beautiful path can’t be discovery without getting lost”. Yang artinya beberapa jalan yang indah tidak dapat ditemukan tanpa tersesat terlebih dahulu. Semoga bangsa Indonesia yang saat ini ada yang berpendapat baru tersesat, mudah-mudahan segera menyadari dan segera bangkit dalam keterpurukan mental dan karakter generasi penerus bangsa. Mari kita lakukan dari diri kita masing-masing, lakukan sekecil apapun yang dengan cinta yang sangat besar.

Selasa, 05 September 2017

Sekelumit Kisahku



Nama Penulis: SRI HANDAYANI, S.Pd., M.Pd. ( Hanny Trisna) lahir di Karanganyar, 2 November 1967. Menamatkan pendidikan lulus Sekolah Dasar tahun 1982 di SD Negeri 03 Ngringo. Lulus SMP Tahun 1985 di SMP Pemda Jaten, lulus Sekolah Pendidikan Guru tahun 1988 di SPG Kristen Surakarta. Tahun 1988-1990 menjadi Guru Wiyata Bakti di SD Negeri 02 Jaten. Mulai tahun 1988 tidak ada pengangkatan guru dan guru Sekolah Dasar harus dari Diploma 2. Tahun 1990 memutuskan untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi, dua tahun berturut-turut mengambil Diploma 2 tidak diterima, justru diterima di Diploma 3 jurusan Bahasa Inggris. Kemudian menamatkan Diploma 3 dan tahun 1993 di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tahun 1995 menikah dengan teman seangkatan kuliah tahun 1990 jurusan Teknik Mesin dari orang Palembang, kemudian pulang ke tanah kelahiran suami dan menjadi Guru Honorer di SMP Negeri 1 Lahat Sumatera Selatan dan SMP Negeri 2 Lahat Sumatera Selatan. Tahun 1996 kembali ke Solo, tepatnya di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupate Karanganyar.
Pengembaraan menjadi guru belum usai, tahun 1997 menjadi guru Wiyata Bakti Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Kebakkramat dan SMP PGRI 12 Kebakkramat. Tahun 1999 melanjutkan kuliah di Strata 1 Universitas Sebelas Maret kemudian lulus tahun 2001. Tahun 2003 menjadi Guru Bantu di SMP Negeri 2 Kebakkramat, mulai tahun 2003 pengabdian penulis kepada Pemerintah Republik Indonesia mulai mendapat perhatian dan tunjangan yang lumayan untuk menyambung hidup. Tahun 2005 pada pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka CPNS secara besar-besaran. Penulis mengambil formasi Sekolah Dasar karena kuota yang diterima lumayan banyak. Dengan pemikiriran yang sangat panjang akhirnya penulis memutuskan untuk mengambil formasi guru Sekolah Dasar, karena pada waktu itu itu formasi guru Bahasa Inggris hanya 5. Syukur alhamdulillah tahun 2005 akhirnya perjalanan penulis menjadi Pegawai Negeri Sipil terkabul juga. Walaupun mengalami perjuangan yang tidak mudah, menjadi guru wiyata bakti selama 17 tahun. Namun syukur alhamdulillah pengabdian penulis selama 17 tahun diakui pemerintah, karena penulis selalu mengabdi di sekolah negeri tanpa putus sejak tahun 1988 sampai tahun 2005. Penulis ditempatkan pertama kali mencoba  menjadi guru, yaitu Seorang Guru Wiyata Bakti yang pada waktu itu honornya hanya Rp 1.500,00 di SD Negeri 02 Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar.
Ternyata penjuangan penulis menjadi guru belum usai, mulai babak baru. Kebahagiaan dan ujian benar-benar mengalami babak baru. Tahun 2006 penulis mencoba mengikuti even-even perlombaan, tahun 2006 mencoba mengirimkan artikel lomba tutor tingkat nasional, karena penulis dari tahun 1997 – tahun 2010 sore harinya juga mengajar di PKBM Pioneer desa Palur, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, mengajar Bimbingan Belajar Mata Pelajaran Bahasa Inggris dan menjadi tutor paket B, dan paket C. Syukur alhamdulillah ya Allah, Engkau mendengar doaku dan mengabulkan permohonanku selama 17 tahun, akhirnya penulis masuk nominasi finalis tutor tingkat nasional. Dan alhamdulillah penulis menjadi juara harapan satu tutor paket C tingkat nasional. Kemudian dari tahun 2006 mendapat penghargaan dari Menteri Pendidikan Nasional Bapak Bambang Sudibyo, selain mendapat laptop, uang, dan kehormatan yang paling berharga adalah menjadi Tutor Tingkat Nasional. Dari sinilah penulis akhirnya melalang buana mengeliling tanah air Indonesia tercinta. Penulis selalu mendapatkan tugas langsung dari Kemendiknas untuk menuntaskan pendidikan Wajib Belajar 9 tahun melalui kejar paket A, B, dan C. Dan di tengah-tengah kesibukan menjadi Narasumber Tingkat Nasional, penulis melanjutkan studi di Universitas Bantara Sukoharjo, mengambil jurusan Bahasa Indonesia karena Strata satu jururusan Bahasa Inggris tidak relevan dengan tugas mengajar menjadi Guru Kelas, lulus tahun 2008, sambil menyelam minum air dan terlanjur basah, kemudian tahun 2009 mengambil Studi lanjut ke Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, kemudian lulus dalam kurun  waktu 1 tahun 3 bulan dan mendapat gelas S2 pada tahun 2011. Dan sempat juga menjadi Dosen di Unived Sukoharjo mata kuliah Bahasa Inggris di Jurusan Bahasa Indonesia.
Banyak suka dan duka yang penulis alami, akhirnya tahun 2011 penulis mengundurkan diri menjadi Tutor Tingkat Nasional, penulis mulai fokus menjadi seorang guru Sekolah Dasar di SD Negeri 02 Jaten. Pada tahun 2013 penulis dipercaya mengikuti seleksi Guru Berprestasi Tingkat Kecamatan, namun Allah belum mengizinkan untuk maju ke Tingkat Kabupaten. Namun penulis masih dipercaya lagi tahun 2014, dan syukur alhamdulillah mewakili tingkat Kecamatan, dilanjut Tingkat Kabupaten juara pertama, dan tingkat Provinsi Jawa Tengah hanya peringkat 10 besar. Even-even perlombaan mulai dipercayakan kepada penulis. Pada tahun 2015 menjadi PTK Berprestasi jenjang guru tingkat Provinsi Jawa tengah juara harapan 1, tahun 2016 menjadi Guru Idola/ Guru Kelas 6 Berprestasi tingkat Kabupaten Karangananyar juara pertama, kemudian mendapat Reward dari Bapak Bupati Kabupaten Karanganyar  Bapak Drs. Juliatmono, M.M. melanjut Studi ke S 3 ( namun belum sempat diambil, insyaa Allah Tuhan mengizinkan tahun depan),Tahun 2016 mengikuti Lomba Menulis Essai tingkat Nasional juara harapan 1. Tahun 2017 mencoba lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional baru masuk tahap Workshop periode pertama di kelompok DKI. Dan syukur alhamdulillah belum layak menjadi finalis di kota Dewata, berarti masih perlu banyak belajar dan berdoa.


Minggu, 18 Juni 2017

PERAN GURU HOTS DALAM PBB



Nama Penulis: SRI HANDAYANI, S.Pd., M.Pd. ( Hanny Trisna) lahir di Karanganyar, 2 November 1967. Menamatkan pendidikan lulus Sekolah Dasar tahun 1982 di SD Negeri 03 Ngringo. Lulus SMP Tahun 1985 di SMP Pemda Jaten, lulus Sekolah Pendidikan Guru tahun 1988 di SPG Kristen Surakarta. Tahun 1988-1990 menjadi Guru Wiyata Bakti di SD Negeri 02 Jaten. Mulai tahun 1988 tidak ada pengangkatan guru dan guru Sekolah Dasar harus dari Diploma 2. Tahun 1990 memutuskan untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi, dua tahun berturut-turut mengambil Diploma 2 tidak diterima, justru diterima di Diploma 3 jurusan Bahasa Inggris. Kemudian menamatkan Diploma 3 dan tahun 1993 di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tahun 1995 menikah dengan teman seangkatan kuliah tahun 1990 jurusan Teknik Mesin dari orang Palembang, kemudian pulang ke tanah kelahiran suami dan menjadi Guru Honorer di SMP Negeri 1 Lahat Sumatera Selatan dan SMP Negeri 2 Lahat Sumatera Selatan. Tahun 1996 kembali ke Solo, tepatnya di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupate Karanganyar.
Pengembaraan menjadi guru belum usai, tahun 1997 menjadi guru Wiyata Bakti Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Kebakkramat dan SMP PGRI 12 Kebakkramat. Tahun 1999 melanjutkan kuliah di Strata 1 Universitas Sebelas Maret kemudian lulus tahun 2001. Tahun 2003 menjadi Guru Bantu di SMP Negeri 2 Kebakkramat, mulai tahun 2003 pengabdian penulis kepada Pemerintah Republik Indonesia mulai mendapat perhatian dan tunjangan yang lumayan untuk menyambung hidup. Tahun 2005 pada pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka CPNS secara besar-besaran. Penulis mengambil formasi Sekolah Dasar karena kuota yang diterima lumayan banyak. Dengan pemikiriran yang sangat panjang akhirnya penulis memutuskan untuk mengambil formasi guru Sekolah Dasar, karena pada waktu itu itu formasi guru Bahasa Inggris hanya 5. Syukur alhamdulillah tahun 2005 akhirnya perjalanan penulis menjadi Pegawai Negeri Sipil terkabul juga. Walaupun mengalami perjuangan yang tidak mudah, menjadi guru wiyata bakti selama 17 tahun. Namun syukur alhamdulillah pengabdian penulis selama 17 tahun diakui pemerintah, karena penulis selalu mengabdi di sekolah negeri tanpa putus sejak tahun 1988 sampai tahun 2005. Penulis ditempatkan pertama kali mencoba  menjadi guru, yaitu Seorang Guru Wiyata Bakti yang pada waktu itu honornya hanya Rp 1.500,00 di SD Negeri 02 Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar.
Ternyata penjuangan penulis menjadi guru belum usai, mulai babak baru. Kebahagiaan dan ujian benar-benar mengalami babak baru. Tahun 2006 penulis mencoba mengikuti even-even perlombaan, tahun 2006 mencoba mengirimkan artikel lomba tutor tingkat nasional, karena penulis dari tahun 1997 – tahun 2010 sore harinya juga mengajar di PKBM Pioneer desa Palur, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, mengajar Bimbingan Belajar Mata Pelajaran Bahasa Inggris dan menjadi tutor paket B, dan paket C. Syukur alhamdulillah ya Allah, Engkau mendengar doaku dan mengabulkan permohonanku selama 17 tahun, akhirnya penulis masuk nominasi finalis tutor tingkat nasional. Dan alhamdulillah penulis menjadi juara harapan satu tutor paket C tingkat nasional. Kemudian dari tahun 2006 mendapat penghargaan dari Menteri Pendidikan Nasional Bapak Bambang Sudibyo, selain mendapat laptop, uang, dan kehormatan yang paling berharga adalah menjadi Tutor Tingkat Nasional. Dari sinilah penulis akhirnya melalang buana mengeliling tanah air Indonesia tercinta. Penulis selalu mendapatkan tugas langsung dari Kemendiknas untuk menuntaskan pendidikan Wajib Belajar 9 tahun melalui kejar paket A, B, dan C. Dan di tengah-tengah kesibukan menjadi Narasumber Tingkat Nasional, penulis melanjutkan studi di Universitas Bantara Sukoharjo, mengambil jurusan Bahasa Indonesia karena Strata satu jururusan Bahasa Inggris tidak relevan dengan tugas mengajar menjadi Guru Kelas, lulus tahun 2008, sambil menyelam minum air dan terlanjur basah, kemudian tahun 2009 mengambil Studi lanjut ke Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, kemudian lulus dalam kurun  waktu 1 tahun 3 bulan dan mendapat gelas S2 pada tahun 2011. Dan sempat juga menjadi Dosen di Unived Sukoharjo mata kuliah Bahasa Inggris di Jurusan Bahasa Indonesia.
Banyak suka dan duka yang penulis alami, akhirnya tahun 2011 penulis mengundurkan diri menjadi Tutor Tingkat Nasional, penulis mulai fokus menjadi seorang guru Sekolah Dasar di SD Negeri 02 Jaten. Pada tahun 2013 penulis dipercaya mengikuti seleksi Guru Berprestasi Tingkat Kecamatan, namun Allah belum mengizinkan untuk maju ke Tingkat Kabupaten. Namun penulis masih dipercaya lagi tahun 2014, dan syukur alhamdulillah mewakili tingkat Kecamatan, dilanjut Tingkat Kabupaten juara pertama, dan tingkat Provinsi Jawa Tengah hanya peringkat 10 besar. Even-even perlombaan mulai dipercayakan kepada penulis. Pada tahun 2015 menjadi PTK Berprestasi jenjang guru tingkat Provinsi Jawa tengah juara harapan 1, tahun 2016 menjadi Guru Idola/ Guru Kelas 6 Berprestasi tingkat Kabupaten Karangananyar juara pertama, kemudian mendapat Reward dari Bapak Bupati Kabupaten Karanganyar  Bapak Drs. Juliatmono, M.M. melanjut Studi ke S 3 ( namun belum sempat diambil, insyaa Allah Tuhan mengizinkan tahun depan),Tahun 2016 mengikuti Lomba Menulis Essai tingkat Nasional juara harapan 1. Tahun 2017 mencoba lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional baru masuk tahap Workshop periode pertama di kelompok DKI. Dan syukur alhamdulillah belum layak menjadi finalis di kota Dewata, berarti masih perlu banyak belajar dan berdoa.


Selasa, 25 April 2017

Senin, 06 Maret 2017

Pendidikan Karakter di Sekolah Melalui "GLS"

Pendidikan Karakter di Sekolah 
Melalui "GLS"

Permasalahan di Indonesia sangat komplek, bahkan sudah mendekati permasalahan yang sangat pelik. Kebobrokan mental dan karakter peserta didik merupakan permasalahan yang sulit diuraikan, bagaikan benang kusut yang sulit ditemukan ujung dan pangkalnya. Tidak dapat bisa ditemukan akar permasalahannya. Masing-masing elemen saling menyalahkan, apakah salah di bidang pendidikan di rumah, sekolah, atau di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Mereka saling menyalahkan, tapi mereka tidak sadar kalau semua pihak mempunyai kontribusi masing-masing. Tantangan pendidikan sekarang ini sudah berada pada titik kulminasi, Untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berkarakter semakin sulit bahkan semakin langka.

Budaya-budaya yang lama seperti: gotong royong, harga menghargai, toleransi, dan kejujuran dianggapnya sudah kuno, sudah tidak zamannya lagi. Budaya seperti itu kini sudah luntur. Yang ada adalah bagaimana menjadikan generasi muda yang cerdas, tanggap perkembangan zaman tidak gagap teknologi. Mereka lupa bahwa pembentukan karakter itu sangat sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Mereka tidak sadar bahwa budaya yang demikian itu sebenarnya sudah dimiliki bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Karena bangsa Indonesia ingin mencetak generasi muda yang cerdas dan tanggap dengan globalisasi. Maka mereka lupa bahwa pendidikan karakter yang sudah diwariskan nenek moyang dahulu dianggapnya kuno sehingga ditinggalkan. 

Untuk mengembalikan budaya karakter yang baik tidak seperti membalikkan telapak tangan. Pemerintah membutuhkan komitmen yang pasti dan serius. Oleh sebab itu membangun integritas di semua lini sangat dibutuhkan oleh pemerintah untuk mewujudkan tujuan bangsa Indonesia. Menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur spiritual materiil berdasarkan pancasila agar segera terwujud. Membangun integritas di satuan pendidikan sangat tepat sasaran, karena satuan pendidikan adalah tempat dimana para generasi muda penerus bangsa menimba segala ilmu di satuan pendidikan tersebut. Mereka mendapatkan pendidikan dengan konsisten dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan. Mereka setiap harinya mendapatkan pendidikan sikap, pengetahuan, dan keterampilan oleh guru-guru yang profesional.      

Guru yang profesional tentunya berada di satuan pendidikan yang memiliki integritas tinggi di dalamnya.  Kultur sekolah sangat berpengaruh terhadap peningkatan prestasi dan pembentukan karakter serta budi pekerti yang baik kepada peserta didik. Untuk menciptakan kultur sekolah yang positif dibutuhkan adanya kesadaran yang tinggi semua warga sekolah yang ada. Guru sebagai ujung tombak di lapangan harus mampu memberikan suri teladan yang baik. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan di Indonesia sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Demikin juga dalam: ... dalam
Gerakan Literasi Sekolah merupakan salah satu bentuk kepedulian sekolah sebagai mitra pemerintah ikut bertanggung jawab dalam mengembalikan pendidikan karakter serta budi pekerti generasi penerus bangsa melalui program GLS kepada peserta didik. Dalam rangka mencapai tujuan akhir pendidikan yang diharapkan oleh satuan pendidikan, maka SD Negeri 02 Jaten merasa perlu untuk menjawab tuntutan di era globalisasi tersebut. SD Negeri 02 Jaten melakukan berbagai kegiatan untuk memberikan pembekalan dalam rangka peningkatan profesionalisme seluruh stake holder sekolah. Bahkan yang paling penting adalah pembentukan karakter peserta didik yang semakin langka pada saat ini. SD Negeri 02 Jaten berusaha untuk menghasilkan out put “ Unggul dalam Mutu Terpuji karena Perilaku”. 
“ Unggul dalam Mutu Terpuji karena Perilaku”, merupakan integritas SD Negeri 02 Jaten yang harus dilakukan seluruh stake holder yang ada, untuk dijadikan budaya serta iklim di satuan pendidikan. Karakter dan kepribadian yang telah dimiliki dan diciptakan di SD Negeri 02 Jaten harus dipertahankan dan diimplementasikan secara sunguh-sungguh dan berkelanjutan  demi mewujudkan visi dan misi serta tujuan di SD Negeri 02 Jaten.